Sabtu, 04 Mei 2013

Beyond AEC : Pelajaran Dari Kiwi…

Di antara negara-negara yang melakukan persiapan yang luar biasa dalam menghadapi ASEAN Economic Community (AEC), Thailand adalah salah satunya. Tiga kementrian sekaligus ditugasi untuk menyiapkan rakyat Thailand untuk siap hidup di era ASEAN. Hal yang sederhana tetapi vital dilakukan oleh menteri pendidikan mereka misalnya, mereka menyiapkan rakyat Thailand untuk siap berbahasa Inggris – karena bahasa itulah yang akan dipakai secara umum di era ASEAN nantinya. Lantas apa yang kita lakukan ?

Bila sampai menteri pendidikan Thailand menggenjot penguasaan bahasa Inggris rakyatnya dalam kampanye yang disebut ASEAN Awareness Campaign (AAC), maka lebih dasyat lagi apa-apa yang disiapkan oleh kementrian perdagangan dan kementrian pertanian mereka – karena komoditi pertanian seperti hortikultura adalah salah satu keunggulan negeri itu.

Lagi-lagi saya tidak mau mengkritisi para penguasa negeri ini yang belum terdengar program spesifik-nya dalam menyiapkan rakyat negeri ini menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN tersebut. Karena kesibukan mereka menghadapi pemilu yang kurang dari satu tahun lagi – nampaknya kita masih harus memakluminya.

Dua tahun menjelang AEC mungkin tidak banyak yang bisa kita lakukan, tetapi bukan berarti tidak ada yang bisa kita lakukan. Saya hanya ingin menjadikan kedodoran kita dalam menghadapi AEC ini sebagai pelajaran, bahwa membangun keunggulan dalam dua tahun itu tidak cukup – tetapi kita harus mulai merintisnya untuk membangun keunggulan jangka panjang.

Bila generasi kita belum menjadi generasi yang ungggul, maka kita harus mencita-citakan anak-anak dan cucu-cucu kita kelak untuk menjadi generasi nan unggul pada jamannya masing-masing.

Untuk program jangka panjang ini, saya contohkan dengan buah kiwi – karena Allah juga yang menyuruh kita untuk mempelajari apa yang ada di bumi (QS 51:20). Dunia sekarang mengenal buah kiwi ini adalah buah khas New Zealand – maka namanya kiwi, yaitu nama burung yang tidak bisa terbang – burung asli negeri itu.

Tetapi buah kiwi ini sebenarnya bukan buah Asli dari New Zealand, bijinya dibawa dari China dari buah yang di negeri asalnya disebut buah Yang Tao. Buah kiwi baru pertama kalinya berbuah di negeri kiwi (nama burung khas New Zealand sebenarnya) sekitar 100 tahun lalu (1910), setelah beberapa tahun sebelumnya seorang kepala sekolah wanita membawa biji buah kiwi dari perjalanannya ke China.

Penanaman kiwi secara komersial di New Zealand bahkan baru mulai di era Perang Dunia II tahun 1937. Sekarang perhatikan, hanya dengan satu buah dan dalam waktu sekitar 1 abad saja – dunia mengenal kiwi adalah New Zealand !. Meskipun buah kiwi tetap tumbuh di negara-negara lain dengan namanya masing-masing, tetapi dunia telah terlanjur mengenal kiwi adalah buah New Zealand.

Belakangan China meng-klaim dan mendeklarasikan bahwa buah tersebut (dengan nama China-nya tentu saja) adalah buah nasional China, tetapi ini tidak merubah realita bahwa dunia mengkonsumsi buah kiwi dari New Zealand.

Kita memiliki ribuan buah, dari buah kecil yang sangat enak tetapi mulai punah – buah ciplukan, sampai buah besar yang baunya khas seperti nangka, durian dan cempedak. Juga ratusan jenis jambu, mangga dan jeruk  dari  negeri yang terkenal paling kaya dari sisi biodiversity ini.

Saking banyaknya yang bisa dipilih, bila kita ingin mengunggulkan satu atau dua buah-buahan nasional kita – maka kita tidak akan bisa sepakat yang mana yang akan kita unggulkan itu. Bila ditanya ke Wali Kota Depok, pastilah blimbing jawabannya. Ditanya ke Wali Kota Malang – apel jawabannya. Ditanya ke Bupati Probolinggo, manggalah jawabannya. Walhasil untuk menentukan buah unggulan kita saja – bisa-bisa kita harus memilih melalui pemilu buah !

Tetapi saya melihat ada jalan untuk mempermudahnya, yaitu belajar dari pengalaman kiwi tersebut di atas. Di New Zealand tentu juga banyak buah asli negeri itu – mungkin tidak sebanyak kita, tetapi masih sangat banyak. Toh yang mereka berhasil unggulkan antara lain justru buah yang bukan asli negeri itu. Mereka melihat peluang pasar, nilai ekonomis, kesesuaian lahan – maka jadilah buah kiwi buah unggulan mereka.

Bagi kita seharusnya bisa jauh lebih mudah, karena kita bukan hanya melihat pasar, nilai ekonomis dan kesesuaian lahan saja – kita menggunakan petunjukNya untuk menentukan buah-buah apa yang akan kita unggulkan nantinya.

Coba perhatikan ilustrasi dalam tulisan saya kemarin Kebunku Kebun Al-Qur’an (02/05/13), perhatikan bulatan-bulatan besarnya – maka kita akan dengan mudah memperoleh short list buah-buah unggulan yang paling banyak disebut di Al-Qur’an. Kita bisa mulai dari setengah lusin buah-buahan ini saja untuk menghasilkan buah unggulan itu yaitu kurma, anggur, zaitun, delima, tin, dan pisang.

Kecuali pisang, lima jenis buah lainnya belum menjadi tanaman yang bernilai ekonomis di negeri ini. Tetapi justru disinilah peluangnya ! negeri-negeri lain yang selama ini memproduksi kurma, zaitun dan tin adalah negeri-negeri yang kering dengan sedikit saja lahan subur mereka yang bisa ditanami. Bayangkan kalau yang menanam buah-buah ini adalah negeri subur yang sangat luas seperti negeri ini – maka dunia bisa dibanjiri dengan buah-buahan yang bukan asli dari negeri ini – tetapi yang dimasalkan oleh negeri ini.

Dalam menanam tanaman non tradisional secara luas dan menjadi yang terbesar di dunia, toh kita juga punya pengalaman dengan sawit. Benih yang konon dibawa oleh penjajah Belanda 3 atau 4 butir saja, telah menjadikan negeri ini kini produsen sawit terbesar di dunia. Sukses yang sama insyaAllah bisa kita ulangi dengan kurma dan buah-buahan lain yang petunjuknya begitu jelas di Al-Qur’an.

Maka kita bisa ngeles bila tidak siap menghadapi AEC dua tahun lagi, tetapi ngeles yang cerdas dan strategis  – yaitu kita siapkan negeri ini bukan sekedar menghadapi AEC yang ‘hanya’ memberi pasar 2.5 kali dari pasar yang sudah kita miliki. Yang kita siapkan adalah Beyond AEC, negeri yang berpenduduk mayoritas muslim ini harus benar-benar mencapai keunggulan yang dijanjikan oleh Allah – bukan hanya sekedar unggul di ASEAN !

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS 3:139)

Kita hanya akan menjadi orang-orang paling unggul (tinggi derajatnya) apabila kita adalah orang-orang yang beriman. Orang yang beriman adalah orang yang tidak ragu sedikit-pun dengan petunjukNya (QS 49:15). Maka dalam seluruh aspek kehidupan kita, dari yang kecil maupun yang besar kita harus mengandalkan petunjukNya semata.

Kalau Thailand sangat siap menghadai AEC dengan gerakan AAC-nya (ASEAN Awareness Campaign), kita insyaAllah juga akan siap bahkan Beyond AEC dengan AAC kita sendiri – yaitu Al-Qur’an Awareness Campaign !  MasyaAllah, la Quwwata Illa Billah (QS 18:39).
 GERAIDINAR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar