Tidak asing lagi fakta kehidupan yang sedang dijalani oleh umat
islam sekarang ini. Berbagai petaka, bencana, penindasan, pelecehan,
berbagai nestapa dan pilu lainnya dengan bertubi-tubi terus menyertai
setiap lembaran sejarah mereka. Dari hari ke hari, pendengaran kita
tiada hentinya mendengarkan berbagai berita yang menyayat-nyayat hati.
Musuh dari segala aliran dan bangsa dengan bengisnya menindas,
menjajah, dan merampas hak umat Islam. Dengan segala kerakusan dan
keserakahannya mereka merampas segala keindahan umat Islam. Semua itu
berlangsung tanpa ada daya dan upaya yang dapat dilakukan oleh umat
Islam untuk menangkal atau menyingkapnya.
Fakta ini benar-benar seperti yang digambarkan oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut:
"Tak lama lagi berbagai bangsa akan ramai-ramai bersekongkol
atas kalian, bak persekongkolan para pemakan ramai-ramai menuju kepada
piring hidangannya. Maka seorang sahabat bertanya : Apakah karena kami
kala itu berjumlah sedikit? Beliau menjawab: Bahkan kalian kala itu
berjumlah banyak, akan tetapi kalian buih bak buih air bah, dan sungguh
Allah akan menyirnakan rasa takut dari dada musuh-musuh kalian, dan Ia
akan mencampakkan Al Wahanu di jantung-jantung kalian. Maka salah seorang sahabat berkata: Wahai Rasulullah, apakah Al Wahanu itu? Beliau menjawab: Cinta terhadap dunia dan benci akan kematian." (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya, serta dishohihkan oleh Al Albany)
Walau demikian, kita tidak boleh berkecil hati atau merasa putus
asa, karena Allah Ta'ala telah memberikan jaminan bahwa kemenangan, dan
kejayaan pasti akan menghampiri hamba-hamba-Nya yang beriman dan
bertaqwa:
{وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ{ الأنبياء 105.
"Dan sungguh-sungguh telah Kami tuliskan (tetapkan) di dalam
Zabur sesudah (Kami tuliskan dalam Lauh Mahfuzh) bahwasannya bumi ini
akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang soleh." Al Anbiya' 105.
Ibnu Katsir berkata: "Allah Ta'ala mengabarkan bahwa hal ini
(kemenangan orang-orang soleh-pen) telah dituliskan dalam kitab syar'i
(taqdir syar'iyah) dan kitab Qodari (taqdir kauniyah), dan hal itu
pasti terwujud." (Tafsir Ibnu katsir 3/201).
Pada ayat lain Allah berfirman:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ
الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي
ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ
فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ- النور 55
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan beramal soleh,
bahwa Ia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi,
sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan
sungguh Ia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Ia ridhai
untuk mereka. Dan Ia benar-benar akan menggantikan (keadaan) mereka
setelah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentausa. Mereka
tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada menyekutukan-Ku dengan sesuatu.
Dan barang siapa yang (tetap) kufur sesudah janji ini, maka mereka
itulah orang-orang fasik." An Nur 55. Dan pada ayat lain Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ- غافر 51
"Sesungguhnya Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan
orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tegakkanya
para saksi (hari Qiyamat)" Ghofir 50.
Inilah janji Allah, inilah jaminan dari Allah, dan inilah sebagian
dari imbalan bagi orang-orang yang memenuhi janji mereka kepada Allah.
Bila kita renungkan ketiga ayat di atas, niscaya kita dapatkan
dengan jelas bahwa janji Allah ini tidaklah diberikan dengan tanpa
syarat. Akan tetapi janji Allah ini hanya dapat digapai dengan dua
syarat :
1. Syarat Pertama: Iman.
2. Syarat Kedua : Amal sholeh.
Ibnu Katsir
rahimahullah berkata: "Karena para sahabat
-semoga Allah meridhoi mereka- adalah para penegak perintah-perintah Allah sepeninggal Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka adalah manusia paling ta'at kepada Allah
Azza wa Jalla, dengan
demikian pertolongan yang didapatkan sesuai dengan amalan mereka.
Mereka menegakkan kalimat Allah di belahan bumi bagian timur dan barat,
maka Allah benar-benar meneguhkan mereka. Sehingga mereka berhasil
menguasai umat manusia dan berbagai negeri. Sepeninggal mereka, umat
Islam melakukan kekurangan dalam sebagian syari'at, maka kejayaan
merekapun berkurang selaras dengan amalan mereka." (Tafsir Ibnu katsir
3/302).
Sebenarnya, lembaran sejarah yang sedang dijalani oleh umat Islam
pada zaman sekarang, tidaklah lebih berat bila dibandingkan dengan
lembaran sejarah yang dijalani oleh Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama sahabatnya. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
dituduh sebagai tukang sihir, pendusta, dan dan disakiti serta
diperangi. Ada dari sahabatnya yang dibunuh dengan cara-cara sadis nan
bengis, sebagaimana yang dialami oleh sahabat Yasir & Sumayyah. Ada
dari mereka yang disiksa dengan berbagai bentuk penyiksaan, sebagaimana
yang dialami oleh Ammar bin Yasir, Khabbab bin Arat, Bilal dll.
Menjalani tantangan yang sangat berat ini, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
tetap tegar meniti setiap tahapan dakwah, tanpa kenal lelah atau kecil
hati. Beliau berjuang sekuat tenaga guna mewujudkan kedua persyaratan
diatas pada sahabatnya.
Dan tatkala ada dari sebagian dari sahabatnya yang merasa bahwa
jalan menuju kejayaan terlalu panjang, dengan tegar beliau kembali
menegaskan bahwa bila kedua persyaratan diatas telah terealisasi, maka
jalan menuju kejayaan sangatlah pendek. Mari kita simak beberapa bukti
akan hal ini:
Abul 'Aliyah menyatakan bahwa ayat 55 surat An Nur di atas diturunkan pada awal Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan para sahabatnya diperintahkan untuk berperang, sehingga beliau dan
para sahabatnya senantiasa dalam keadaan khawatir akan serangan musuh.
Oleh karenanya, mereka senantiasa menenteng senjata, sampai-sampai
salah seorang sahabat berkata kepada beliau:
"Akankah
selama-lamanya kita akan berada dalam ketakutan semacam ini?,
mungkinkah akan datang suatu saat yang aman sehingga kamipun meletakkan
senjata? Maka Nabipun menjawab:
"Tidaklah kalian bersabar
melainkan hanya dalam waktu yang singkat, sampai akan datang suatu
masa, yang padanya salah seorang dari kamu akan duduk
berongkang-ongkang ditengah keramaian manusia, sedangkan tidak sepotong
besipun (senjata) ada bersama mereka," kemudian Allah menurunkan ayat di atas. (Tafsir At Thobary 18/159).
Imam Bukhori meriwayatkan dari sahabat Khabbab bin Arat radhiallahu ‘anhu, bahwa pada suatu hari beliau mendatangi Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang berbaring di bawah naungan Ka'bah berbantalkan selimutnya. Lalu sahabat Khabbab berkata kepada beliau:
Tidakkah engkau memohonkan pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami? Maka
beliau menjawab: Dahulu pada umat sebelum kalian ada orang yang
ditimbun dalam tanah, kemudian didatangkan gergaji, lalu diletakkan di
atas kepalanya hingga terbelah menjadi dua. Siksa itu tidaklah
menjadikan ia berpaling dari agamanya. Dan ada yang disisir dengan sisir
besi, hingga terkelupas daging, dan nampaklah tulang atau ototnya,
akan tetapi hal itu tidaklah menjadikan ia berpaling dari agamanya.
Sungguh
demi Allah, urusan ini akan menjadi sempurna, sehingga akan ada
penunggang kendaraan dari Sanaa' hingga ke Hadramaut, sedangkan ia
tidaklah merasa takut kecuali kepada Allah atau serigala atas dombanya. Akan tetapi kalian adalah orang-orang yang terburu-buru."
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kisah ini
kembali menggugah keimanan Khabbab kepada janji Allah. Sebagaimana
Beliau r juga menegur sahabat Khabbab agar meninggalkan sikap
terburu-buru dalam perjuangan di jalan Allah.
Subhanallah, hanya sekejap, yaitu dalam kurun waktu tiga
puluh tahun (50 thn) dari kebangkitan Nabi Muhammad, umat Islam
berhasil meruntuhkan dua negara adidaya kala itu, yaitu negara Persia
dan Romawi.
Bila kita mempelajari sejarah peperangan umat Islam kala itu,
niscaya kita akan mendapatkan suatu keajaiban. Semula bangsa arab yang
tidak diperhitungkan sama sekali bangsa-bangsa lain, dalam sekejap
mengusai dunia. Semua itu berhasil mereka gapai dengan persenjataan
dan jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit dibanding musuh.
Tidak pernah terjadi peperangan yang dimenangkan oleh umat Islam, sedangkan jumlah pasukan mereka lebih banyak dibanding musuh.
Semua ini adalah berkat keimanan dan kesungguhan mereka dalam menjalankan perintah Allah Ta'ala:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ
الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي
ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا
يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ
فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ- النور 55
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan beramal soleh,
bahwa Ia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi,
sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan
sungguh Ia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Ia ridhai
untuk mereka. Dan Ia benar-benar akan menggantikan (keadaan) mereka
setelah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentausa. Mereka
tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada menyekutukan-Ku dengan sesuatu.
Dan barang siapa yang (tetap) kufur sesudah janji ini, maka mereka
itulah orang-orang fasik." An Nur 55.
Bila sahabat Khabbab radhiallahu ‘anhu yang hanya meminta agar Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
memohonkan pertolongan dan berdoa, dinyatakan terburu-buru, maka
baimana halnya dengan sikap banyak dari umat Islam pada zaman ini. Dari
mereka ada yang menempuh jalan demonstrasi, pengeboman, pendirian
partai politik, dan menggalang dukungan dari siapapun, serta berkoalisi
dengan partai apapun, tanpa perduli dengan asas dan idiologinya. Semua
ini mereka lakukan dibawah slogan: menyegerakan kejayaan umat Islam?!!
Mengusahakan jaminan hidup bermartabat bagi umat Islam?!
Memperjuangkan nasib kaum muslimin?!! Bahkan dari mereka ada yang
berkata: Bila umat islam tidak masuk parlemen, maka siapakah yang akan
menjamin nasib mereka?!
Seakan-akan mereka tidak pernah mendengar jaminan dan janji Allah di atas.
Seusai perjanjian Hudaibiyyah ditandatangani, sahabat Umar bin
Khatthab radhiallahu ‘anhu yang tidak kuasa melihat sahabat Abu Jandal
radhiallahu ‘anhu diserahkan kembali ke orang-orang Quraisy, berkata
kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam: Bukankah engkau adalah benar-benar Nabiyullah? Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab: Ya. Umarpun kembali berkata: Bukankah kita di atas kebenaran,
sedangkan musuh kita di atas kebatilan? Nabipun menjawab: Ya! Umarpun
berkata: Lalu mengapa kita pasrah dengan kehinaan dalam urusan agama
kita, bila demikian adanya? Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Sesungguhnya Aku adalah Rasulullah, dan
aku tidak akan menyelisihi perintah-Nya, dan Allah adalah Penolongku.
Umar kembali berkata: Bukankah engkau pernah mengabarkan kepada kami
bahwa kita akan mendatangi Ka'bah, kemudian berthowaf di sekelilingnya?
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
Iya, dan apakah aku pernah mengabarkan bahwa kita akan mendatangi Ka'bah pada tahun ini? Umarpun menjawab: Tidak. Maka Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya:
Sesungguhnya engkau akan mendatanginya, dan akan bertowaf mengelilinginya. (Muttafaqun 'alaih)
Pada kisah ini, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
berusaha meneguhkan kembali keimanan Umar bin Khatthab kepada janji
Allah agar tidak tergoyah. Dan mengungatkannya agar bersabar dalam
menanti datangnya pertolongan Allah, yaitu dengan tetap taat kepada
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikianlah
seyogyanya pertolongan Allah Ta'ala digapai. Yaitu dengan keimanan yang
benar dan kokoh dan kesabaran yang teguh. Allah Ta'ala berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ -السجدة 25.
"Dan Kami jadikan dari mereka pemimpin-pemimpin yang memberi
petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka bersabar dan adalah mereka
selalu meyakini ayat-ayat Kami." (As Sajdah 24).
Ibnul Qayyim berkata: "Pada ayat ini Allah Ta'ala mengabarkan bahwa
Ia telah menjadikan mereka (pengikut nabi Musa-pen) sebagai
pemimpin-pemimpin yang dijadikan panutan oleh generasi setelah mereka,
berkat kesabaran dan keyakinannya.
Sebab dengan kesabaran dan keyakinan, kepemimpinan dalam hal agama dapat dicapai.
Karena seorang penyeru kepada jalan Allah Ta'ala, tidaklah akan
terealisasi cita-citanya, melainkan bila ia benar-benar yakin akan
kebenaran misi yang ia serukan, ia menguasai ilmu tentangnya. Ia juga
bersabar dalam menjalankan dakwah menuju jalan Allah, yaitu dengan tabah
menahan beban dakwah dan menahan diri dari segala hal yang akan
meluluhkan tekad dan cita-citanya. Barang siapa demikian ini halnya,
maka ia termasuk para pemimpin yang telah mendapat petunjuk dari Allah
Ta'ala." (I'ilamul Muwaqi'in 4/135)
Kisah antara Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sahabat Umar bin Khatthab radhiallahu ‘anhu di atas, tentu tidak selaras dengan doktrin sebagian orang bahwa:
yang
paling penting sekarang ini adalah kita bergerak, umat islam harus
bertindak, sekarang ini bukan lagi saatnya untuk menyoal tentang asma'
was sifat, sunnah, atau bid'ah, sedangkan saudara kita di sana dibantai,
di sini ditindas, disana diserang dst. Sekarang ini bukan saatnya
untuk bertanya sunnah atau bid'ah? Sekarang ini saatnya kita bersatu,
menggalang dukungan, melupakan segala perbedaan, dan berusaha mencari
titik temu, dst.
Doktrin ini tidaklah diucapkan kecuali oleh orang yang tidak mengenal keagungan Allah Ta'ala:
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata: "Sesungguhnya kalian
mengerjakan berbagai amalan, yang di mata kalian lebih lembut dibanding
rambut, padahal kami dahulu semasa hidup Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggapnya sebagai amalan yang membinasakan." (Riwayat Bukhory).
Tatkala Kholifah Umar bin Al Khotthab terluka akibat tusukan Abu
Lu'lu'ah Al Majusi, ia dijenguk oleh seorang pemuda yang berkata:
"Bergembiralah wahai Amirul Mukminin dengan kabar gembira dari Allah
untukmu; engkau telah menjadi sahabat Rasulullah, dan banyak berjasa
untuk Islam sebagaimana yang engkau ketahui sendiri, kemudian engkau
dipilih menjadi pemimpin, dan engkaupun berlaku adil, kemudian engkau
mati syahid. Umarpun menjawab: Aku berandai-andai itu semua cukup,
tidak atasku dan juga tidak untukku. Tatkala pemuda itu telah
berpaling, ternyata sarungnya menyentuh tanah. Umar-pun berkata:
Panggillah kembali pemuda itu, lalu ia berkata kepadanya:
"Wahai
anak saudaraku! Naikkanlah bajumu, karena dengan cara itu bajumu akan
lebih awet, dan engkau lebih bertaqwa kepada Rabb-mu". (Riwayat Bukhori).
Pada akhir hayatnya, Kholifah Umar bin Khatthab masih juga perhatian
dengan masalah isbal. Beliau atau sahabat lainnya yang hadir kala itu
tidak ada yang berkata:
"Sekarang, bukan saatnya berbicara tentang isbal, sekarang saatnya berbicara tentang calon pengganti kholifah," atau ucapan yang semakna.
Kholifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkirim surat kepada salah seorang panglimanya:
"Hendaknya engkau senantiasa bertaqwa kepada Allah dalam setiap
situasi yang engkau hadapi, karena ketakwaan kepada Allah adalah
senjata paling ampuh, taktik paling bagus, dan kekuatan paling hebat.
Janganlah engkau dan kawan-kawanmu lebih waspada dalam menghadapi musuh dibanding menghadapi perbuatan maksiat kepada Allah. Karena perbuatan dosa lebih aku kawatirkan atas masyarakat dibanding tipu daya musuh mereka.
Kita memusuhi musuh kita dan mengharapkan kemenangan atas mereka berkat tindak kemaksiatan mereka.
Kalaulah bukan karena itu, niscaya kita tidak kuasa menghadapi mereka,
karena jumlah kita tidak seimbang dengan jumlah mereka, kekuatan kita
tidak setara dengan kekuatan mereka. Bila kita tidak mendapat
pertolongan atas mereka berkat kebencian kita terhadap kemaksiatan
mereka, niscaya kita tidak dapat mengalahkan mereka hanya dengan
kekuatan kita.
Jangan sekali-kali kalian lebih mewaspadai permusuhan seseorang
dibanding kewaspadaanmu terhadap dosa-dosamu sendiri. Janganlah kalian
lebih serius menghadapi mereka dibanding menghadapi dosa-dosa kalian.
Ketahuilah bahwa kalian senantiasa diawasi oleh para malaikat
pencatat amalan. Mereka mengetahui setiap perilaku kalian sepanjang
perjalanan dan peristirahatan kalian. Hendaknya kalian merasa malu dari
mereka, dan berlaku santun dihadapan mereka. Jangan sekali-kali
menyakiti mereka dengan tindak kemaksiatan kepada Allah, padahal kalian
mengaku sedang berjuang di jalan Allah.
Janganlah sekali-kali kalian beranggapan bahwa :
"Sesungguhnya
(perbuatan) musuh-musuh kita lebih jelek dibanding kita, sehingga
tidak mungkin mereka dapat mengalahkan kita, walaupun kita berbuat
dosa. Betapa banyak kaum yang telah dikuasai oleh orang-orang yang
lebih jelek, akibat dari perbuatan dosa kaum tersebut."
Mohonlah pertolongan kepada Allah dalam menghadapi diri kalian,
sebagaimana kalian memohon pertolongan kepada-Nya dalam menghadapi
musuh kalian. Sebagaimana kamipun turut memohon hal tersebut untuk diri
kita dan juga untuk kalian." (Hilyatul Auliya' 5/303)
Subhanallah, suatu pesan yang layak untuk dituliskan dengan
tinta emas, dan dibacakan kepada setiap orang yang di hatinya sedang
berkobar-kobar api perjuangan demi Islam. Sudah sepantasnya pesan ini
diajarkan kepada setiap pemuda Islam yang ingin memperjuangkan nasib
Islam dan umatnya.
Kisah peperangan uhud dan peperangan Hunain adalah contoh kecil bagi ucapan Kholifah Umar bin Abdul Aziz:
Janganlah sekali-kali kalian beranggapan bahwa : "Sesungguhnya (perbuatan) musuh-musuh kita lebih jelek dibanding kita,..." .
Pada perang Uhud, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersama sahabatnya menghadapi kaum kafir Quraisy. Mereka datang ke
madinah guna membalas dendam atas kekalahan mereka pada perang Bader.
Sebagian sahabat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam melanggar perintah Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak meninggalkan pos penjagaan mereka di atas gunung, walau terjadi kejadian apapun. Sampai-sampai Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka:
كونوا مكانكم لا تبرحوا وإن رأيتم الطير تخطفنا
"Tetaplah kalian berada di pos kalian, dan janganlah kalian
berhanjak pergi, walaupun kalian menyaksikan burung-burung telah
menyambar-nyambar kami". (Al Baihaqy dll).
Akan tetapi perintah ini oleh sebagian sahabat yang bertugas menjaga
pos di atas gunung dilanggar. Mereka berdalih, perang telah usai, dan
musuh mulai lari tunggang-langgang, sehingga mereka merasa perlu untuk
ikut mengumpulkan rampasan perang dan menawan musuh yang berhasil di
tangkap. Akibat pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian sahabat ini,
terjadilah kekalahan dan petaka, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam terluka dan terjatuh hingga pingsan, lebih dari tujuh puluh sahabat terbunuh dll.
Pada kisah ini, sebagian sahabat melanggar perintah untuk ittiba' (meneladani dan mentaati) Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dan pada perang Hunain, sebagian sahabat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
lalai akan Allah, sehingga mereka merasa percaya diri dan beranggapan
tidak akan terkalahkan, karena jumlah mereka banyak. Sebagaimana Allah
kisahkan hal ini dalam surat At Taubah 25:
(لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ
وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ
عَنكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ
وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ)
"Sesungguhnya Allah telah menolong kalian di medan peperangan
yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu
terperdaya oleh banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak
memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah
terasa sempit olehmu, k emudian kamu lari ke belakang dengan
bercerai-berai." (At Taubat).
Pada kisah ini sebagian sahabat yang merasa percaya diri dengan
jumlah pasukan dan melalikan tawakkal kepada Allah, maka mereka ditimpa
kekalahan, walaupun akhirnya para sahabatnya yang telah kokoh
keimanannya, segera kembali dan berjihad melawan musuh. Dan akhirnya
Allah Ta'ala melimpahkan kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan sahabatnya kemenangan. Pada kisah ini, kaum muslimin terkalahkan
pada awal peperangan, akibat rasa ujub dan lupa tawakkal, sehingga
terjadi kekeliruan dalam hal tauhid kepada Allah.
Bila kita sedikit menoleh kepada realita umat Islam pada zaman kita
ini, maka kita dapatkan sangat jauh beda. Bukan sekedar dosa-dosa kecil
yang diremehkan, akan tetapi berbagai dosa besar bahkan syirikpun
tidak lagi diperdulikan. Berapa ribu kuburan yang dikeramatkan? Berapa
juta ajimat dikantongi umat islam? Berapa ribu para normal dan para
tidak normal bebas membuka praktek umum. Berapa ribu habib dan kiayi
bebas mengajarkan bid'ah dan kesesatannya? Adakah orangyang merasa
terusik, atau menggalang kekuatan dan dukungan untuk mengingkari itu
semua?
Kebanyakan umat Islam sekarang ini disibukkan dengan urusan jabatan
dan perebutan jatah kursi. Mereka sewot bila ada pejabat yang korupsi,
akan tetapi tidak pernah sewot sedikitpun bila ada kuburan yang
dikultuskan, atau bid'ah yang diajarkan.
Sebenarnya fakta ini bukanlah hal baru, akan tetapi senantiasa terjadi di sepanjang masa. mari kita simak kisah berikut:
"Dari sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu ia
menuturkan : Datang kepadaku salah seorang dari anshar (penduduk
madinah) pada masa khilafah Utsman, kemudian ia berbicara kepadaku,
ternyata ia memerintahkanku untuk mencela Utsman, dan ia adalah orang
yang lisannya berat (susah berbicara) sehingga ia tidaklah dapat
menyampaikan maksudnya dengan jelas, dan ketika ia telah selesai
berbicara, sayapun menjawab: "Dahulu kami (para sahabat), semasa hidup
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: "Orang paling utama
dari umat ini ialah Abu Baker, kemudian Umar, kemudian Utsman. Dan
sungguh demi Allah, kami tidaklah mengathui bahwa Utsman pernah
membunuh seorang jiwa tanpa alasan yang dibenarkan, tidak juga pernah
melakukan dosa besar. Akan
tetapi yang menjadi permasalahan ialah harta kekayaan ini (harta
kekayaan khilafah/ negara), bila ia memberikannya kepada kalian, kalian
ridho, dan bila ia berikannya kepada karib kerabatnya kalian menjadi
murka. Sesungguhnya kalian ini ingin menjadi seperti
orang-orang Persia dan Romawi, mereka tidaklah pernah memiliki seorang
pemimpin, melainkan mereka bunuh sendiri." Riwayat Ahmad, Al Khollah dan At Thobrani
Sebagai penutup tulisan singkat ini, saya cukupkan dengan menyebutkan dua hadits berikut:
لئن أنتم اتبعتم أذناب البقر وتبايعتم بالعينة وتركتم
الجهاد في سبيل الله ليلزمنكم الله مذلة في أعناقكم ثم لا تنزع منكم حتى
ترجعون إلى ما كنتم عليه وتتوبون إلى الله. رواه أحمد وأبو داود والبيهقي
وصححه الألباني
"Bila kalian telah (sibuk dengan) mengikuti ekor-ekor sapi, berjual beli dengan cara 'innah([1])
dan
meninggalkan jihad, niscaya Allah akan melekatkan kehinaan ditengkuk-
tengkuk kalian, kemudian kehinaan tidak akan dicabut dari kalian hingga
kalian kembali kepada keadaan kalian semula dan bertaubat kepada
Allah." Riwayat Ahmad, Abu Dawud, Al Baihaqy dan dishohihkan oleh Al Albany.
يُوشِكُ أن تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الأُمَمُ من كل أُفُقٍ
كما تَدَاعَى الآكلة على قَصْعَتِهَا قال قُلْنَا يا رَسُولَ اللَّهِ
أَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ قال أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ
وَلَكِنْ تَكُونُونَ غُثَاءً كَغُثَاءِ السَّيْلِ يَنْتَزِعُ الْمَهَابَةَ
من قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ وَيَجْعَلُ في قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ قال قُلْنَا
وما الْوَهَنُ قال حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ رواه احمد
وغيره
"Tidak lama lagi kalian akan dikerumuni oleh umat-umat lain dari
segala penjuru, layaknya para penyantap makanan yang sedang
mengelilingi suatu piring makanan (nampan). Para sahabat bertanya: Ya
Rasulullah, apakah hal itu terjadi dikarenakan kala itu kita berjumlah
sedikit? Beliau menjawab: "Kalian kala itu berjumlah banyak, akan
tetapi kalian bagaikan buih air bah. Rasa takut telah sirna dari hati
musuh-musuh kalian, sedangkan di hati kalian tertanam rasa al wahan."
Para sahabat kembali bertanya: Apakah "al wahanu itu"? Beliau menjawab:
"Rasa cinta terhadap kehidupan dan takut terhadap mati (syahid)." Riwayat Ahmad dan lain-lain.
Wallahu a'alam bisshowab.
Oleh: DR. Muhammad Arifin Baderi, MA
Keterangan:
[1] ) Jual beli 'Innah ialah seseorang menjual kepada orang lain
suatu barang dengan pembayaran dihutang, kemudian seusai barang
diserahkan, segera penjual tadi membeli kembali barang tersebut dengan
harga yang lebih murah dan dengan pembayaran kontan.(pengusahamuslim.com)